Rabu, 27 Desember 2017

PESAN MANIS DARI SANG PERAMU KATA (RESENSI NOVEL AYAT-AYAT CINTA 2)

Siapakah sang peramu kata itu? Sungguh bukan saya. Ialah Novelis Hebat Habiburrahman El Shirazy atau yang biasa disapa kang Abik. Beliau telah banyak mengeluarkan karya dan membuat jutaan insan jatuh cinta akan karyanya. Begitu juga saya yang jatuh cinta dengan karyanya yang berjudul Ayat-Ayat Cinta 2. Setelah sukses dengan part pertamanya Ayat-Ayat Cinta yang juga di adaptasi kedalam film dan meraih kesuksesan besar. Kang Abik kembali melanjutkan kisah “Fahri” dalam part keduanya tersebut. Melalui novel ini begitu banyak pesan yang dapat diambil oleh setiap pembacanya. Bagaimana itu kalimat “Bhineka Tunggal Ika” menjadi sebuah kekuatan yang tertanam dalam hati meski kaki tak lagi menapak dibumi pertiwi, bagaimana seorang suami yang begitu setia dalam penantian panjangnya  yang entah dimana ujungnya, bagaimana seorang muslim yang begitu membela agamanya dengan cara yang indah. Semua terangkum disini, sesaat kita bukan seperti membaca sebuah novel melainkan sebuah buku agama yang dikemas dengan kata-kata yang mudah dinikmati berbagai kalangan.

Belum lama ini novel ini kembali diadaptasi kedalam sebuah film, dan kebetulan saya telah menontonnya. Begitu film tersebut tayang di layar lebar, sungguh tak sabar rasanya saya tuk melihatnya. Namun, jujur ada sedikit kekecewaan saat saya menontonnya mungkin karna ekspetasi saya yang terlalu berlebih. Film itu tetap bagus bahkan tak sedikit orang-orang yang jatuh cinta dengan film tersebut. Seperti seseorang perempuan muda yang duduk disamping saya ia begitu terharu saat menontonnya. Batin saya jika ia membaca novelnya mungkin ia akan lebih dalam lagi dalam keharuan. Terlebih dari itu, seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa film tersebut bagus, namun saya lebih jatuh cinta pada novelnya.
Saya jatuh cinta pada karakter Fahri, yang begitu menyayangi tetangga yahudinya yang telah lanjut usia dibanding anak tiri nenek itu sendiri.
Saya jatuh cinta pada karakter Fahri, yang menjaga kehormatan tetangga perempuannya meskipun tak seiman.
Saya jatuh cinta pada karakter Fahri, yang rela menghabiskan banyak uangnya demi masa depan tetangganya yang nasrani, yang begitu membencinya hanya karna ia “muslim”.
Saya jatuh cinta pada karakter Fahri, yang begitu setia menunggu Aisha meskipun banyak wanita cantik yang siap dinikahinya.
Saya jatuh cinta pada karakter Aisha, yang menjaga kehormatannya demi sang suami meski harus melukai dirinya.
Saya jatuh Cinta pada Karakter Aisha, yang mampu menahan setiap luka demi melihat suaminya bahagia
Dan sayaa jatuh cinta pada semua karakter yang ada pada novel ini, karna telah memberi saya banyak pesan yang indah.

Begitulah sedikut kesan yang dapat saya ceritakan setelah membaca sebuah karya hebat Habiburrahman El Shirazy.

5 komentar:

PERPUSTAKAAN DENGAN SUASANA COZY ADA DI JAKARTA

Tempat yang nyaman tentu menjadi alasan  agar seseorang betah berlama-lama didalamnya. Seperti Perpustakaan Freedom Institute ini co...