Siapakah sang peramu kata itu? Sungguh
bukan saya. Ialah Novelis Hebat Habiburrahman El Shirazy atau yang biasa disapa
kang Abik. Beliau telah banyak mengeluarkan karya dan membuat jutaan insan
jatuh cinta akan karyanya. Begitu juga saya yang jatuh cinta dengan karyanya
yang berjudul Ayat-Ayat Cinta 2. Setelah sukses dengan part pertamanya Ayat-Ayat Cinta yang juga di adaptasi kedalam film
dan meraih kesuksesan besar. Kang Abik kembali melanjutkan kisah “Fahri” dalam part keduanya tersebut. Melalui novel
ini begitu banyak pesan yang dapat diambil oleh setiap pembacanya. Bagaimana
itu kalimat “Bhineka Tunggal Ika” menjadi sebuah kekuatan yang tertanam dalam
hati meski kaki tak lagi menapak dibumi pertiwi, bagaimana seorang suami yang
begitu setia dalam penantian panjangnya yang entah dimana ujungnya, bagaimana seorang
muslim yang begitu membela agamanya dengan cara yang indah. Semua terangkum
disini, sesaat kita bukan seperti membaca sebuah novel melainkan sebuah buku
agama yang dikemas dengan kata-kata yang mudah dinikmati berbagai kalangan.
Belum lama ini novel ini kembali
diadaptasi kedalam sebuah film, dan kebetulan saya telah menontonnya. Begitu
film tersebut tayang di layar lebar, sungguh tak sabar rasanya saya tuk
melihatnya. Namun, jujur ada sedikit kekecewaan saat saya menontonnya mungkin
karna ekspetasi saya yang terlalu berlebih. Film itu tetap bagus bahkan tak
sedikit orang-orang yang jatuh cinta dengan film tersebut. Seperti seseorang
perempuan muda yang duduk disamping saya ia begitu terharu saat menontonnya.
Batin saya jika ia membaca novelnya mungkin ia akan lebih dalam lagi dalam
keharuan. Terlebih dari itu, seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa film
tersebut bagus, namun saya lebih jatuh cinta pada novelnya.
Saya jatuh cinta pada karakter Fahri, yang begitu menyayangi tetangga yahudinya yang telah lanjut usia dibanding
anak tiri nenek itu sendiri.
Saya jatuh cinta pada karakter Fahri, yang menjaga kehormatan tetangga perempuannya meskipun tak seiman.
Saya jatuh cinta pada karakter Fahri, yang rela menghabiskan banyak uangnya demi masa depan tetangganya yang nasrani,
yang begitu membencinya hanya karna ia “muslim”.
Saya jatuh cinta pada karakter Fahri,
yang begitu setia menunggu Aisha meskipun banyak wanita cantik yang siap
dinikahinya.
Saya jatuh cinta pada karakter Aisha,
yang menjaga kehormatannya demi sang suami meski harus melukai dirinya.
Saya jatuh Cinta pada Karakter Aisha,
yang mampu menahan setiap luka demi melihat suaminya bahagia
Dan sayaa jatuh cinta pada semua
karakter yang ada pada novel ini, karna telah memberi saya banyak pesan yang
indah.
Begitulah sedikut kesan yang dapat saya
ceritakan setelah membaca sebuah karya hebat Habiburrahman El Shirazy.

Good👍
BalasHapusNtaps
BalasHapusPengen jadi fahri jadinyaa hehehe.
BalasHapusterimakasih semua
BalasHapusGood. Berasa kebawa dalam novel nyaaaaa
BalasHapus